JAKARTA – Memori hari ini, delapan tahun yang lalu, 31 Maret 2017, Penunjukan Ivanka Trump sebagai penasihat Presiden Amerika Serikat (AS) yang notabene ayahnya sendiri, Donald Trump jadi polemik. Narasi itu membuat rakyat AS mencium Trump melanggar UU Anti Nepotisme.
Sebelumnya, hadirnya Trump sebagai orang nomor satu AS penuh dengan dinamika. Kontroversi dianggap bagian penting dalam kuasanya. Ia bahkan secara mengejutkan memanfaatkan jabatannya untuk mengangkat orang terdekat.
Donald Trump tak dapat dianggap remeh dalam peta politik AS. Kemunculan sebagai kandidat Presiden Negeri Paman Sam dalam Pilpres AS 2016 menghebohkan dunia. Kehebohan itu bukan saja karena Trump dikenal sebagai pesohor dalam dunia bisnis.
Pencalonan Trump heboh karena ia mampu menarik hati rakyat AS memilihnya. Namun, cara-cara yang digunakan Trump dianggap kontroversial. Trump meremehkan semua pendapat pakar. Ia mulai mendekatkan diri dengan pandangan konservatif.
Trump mengemas dirinya sebagai sosok yang dekat dengan agama. Segala macam tindakan yang tak sesuai norma agama akan diberantas – utamanya LGBT. Narasi itu membuatnya mendapatkan dukungan dari rakyat AS. Ia pun berhasil muncul jadi Presiden AS terpilih.

Rakyat AS mulanya menganggap Trump sebagai harapan baru. Namun, belakangan kebijakan yang diambil Trump mulai kelihatan boroknya. Trump dianggap mulai menggunakan kekuasaannya untuk memilih keluarganya – anak dan menantu-- untuk mendapatkan jabatan strategis di pemerintahan.
Ambil contoh menantunya, Jared Kushner yang diangkat Trump sebagai Penasihat Senior Gedung Putih. Andil suami Ivanka Trump sebagai pengusaha sukses ada di baliknya. Namun, publik AS melihatnya berbeda.
Trump dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap UU Anti Nepotisme. Masalah lagi-lagi muncul. Belum selesai masalah Kushner, Trump justru mengangkat istri Kushner, Ivanka sebagai Penasihat Presiden AS pada 29 Maret 2017.
Ivanka memang mengungkap posisinya sebagai Penasihat Presiden AS tidak digaji. Keputusan itu diambil untuk menghindari anggapan bahwa ia bekerja demi uang.
"Saya menyadari kekhawatiran itu dalam peran personal saya sebagai penasihat presiden. Namun, meski tak digaji, saya tetap mematuhi etika yang berlaku di Gedung Putih, sebagaimana yang diberlakukan pada karyawan lainnya."
"Sepanjang proses ini saya bekerja sangat serius dan dengan niat baik untuk Gedung Putih. Keinginan pribadi saya itu untuk pekerjaan yang sebelumnya belum pernah saya lakukan," ungkap Ivanka dalam sebuah pernyataan dikutip laman vivanews.com, 31 Maret 2017.
BACA JUGA:
Ivanka boleh saja tak digaji untuk jabatannya. Namun, penunjukannya tetap dikecam banyak pihak dan jadi polemik pada 31 Maret 2017. Ivanka dianggap tak memiliki kompetensi mempuni sebagai Penasihat Presiden AS.
Kecaman satu demi satu bermunculan. Kecaman paling keras muncul dari mantan Penasihat Presiden Barack Obama, Norman Eisen. Norman yang sudah makan asam garam sebagai Penasihat Presiden AS mengungkap keluarga Trump bak tak menghargai UU Anti Nepotisme.
Norman menyebut isi UU itu tak pernah berubah. Namun, entah mengapa kala Trump jadi Presiden AS UU Anti Nepotisme seakan tak berlaku bagi keluarga Donald Trump.
"Pandangan saya adalah bahwa aturan nepotisme seperti tidak berlaku untuk Gedung Putih. Selama beberapa dekade, Departemen Kehakiman mengatakan 'iya' undang-undang nepotisme berlaku untuk Gedung Putih," kata Norman Eisen sebagaimana dikutip laman sindonews.com, 31 Maret 2017.